Penjelasan Ilmiah Kenapa Melupakan Patah Hati Terasa Menyakitkan

Penjelasan Ilmiah Kenapa Melupakan Patah Hati Terasa Menyakitkan

Putus cinta akan selalu menimbulkan luka di hati. Baik itu dari pihak yang memutuskan hubungan maupun diputuskan. Menyembuhkan patah hati juga bukan perkara mudah. Ada yang perlu waktu berbulan-bulan bahkan tahunan, dan rasa sakit hati belum tentu hilang seutuhnya.

Kenapa melupakan putusnya hubungan asmara bisa sangat menyakitkan dan butuh waktu lama? Ada penjelasan ilmiah yang bisa menjawabnya.

1. Cinta Membuat Ketagihan
Menurut Helen Fisher Ph.D, seorang antropolog dari Rutgers University, jatuh cinta mengaktifkan pusat ‘kenikmatan’ di otak sehingga meningkatkan hormon dopamine yang membuat orang merasa senang. Aktifnya hormon tersebut bisa menimbulkan perasaan ‘ketagihan’ pada seseorang yang efeknya sama seperti kecanduan kokain atau heroin. Jadi ketika pusat dari yang memberikan cinta itu tak lagi ada di sisi, otak akan mencari-cari dan timbullah efek yang dikenal orang dengan istilah ‘sakaw’.

2. Cinta Memutarbalikkan Realita
Jika dibilang ‘cinta terkadang tak ada logika’, secara ilmiah memang benar adanya. Cinta bisa membuat seseorang berpikir atau berbuat sesuatu di luar dari kebiasaan. Cinta membuat pandangan seseorang terhadap realita berubah. Jadi ketika cinta itu telah hilangm bisa mengubah bagaimana Anda melihat dunia.

3. Sakit Hati = Sakit Fisik
Studi yang dilakukan di tiga universitas di Michigan, Columbia dan Colorado menunjukkan bahwa otak tidak bisa membedakan antara sakit fisik (misalnya cedera atau terkena penyakit) dan sakit di hati. Hal itu membuat otak merespon sakit fisik dan emosional dengan cara yang sama. Bedanya, sakit fisik terlihat secara nyata sedangkan sakit hati tidak.

Misalnya saja ketika jari atau tangan terjepit pintu. Anda akan marah, kesal, dan tahu di mana letak rasa sakitnya. Tapi jika patah hati, Anda juga akan merasakan emosi yang sama namun tidak bisa melihat atau menunjukkan sumber rasa sakitnya.

Jadi jika dibilang sakit itu menyakitkan, maka bukanlah ungkapan semata. Tapi memang sakit yang benar-benar terasa.